Jakarta (KABARIN) - Kementerian Agama resmi menerbitkan Petunjuk Teknis (Juknis) Pembelajaran Ramadhan 2026 yang jadi acuan bagi madrasah di seluruh Indonesia. Aturan ini tertuang dalam Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 1290 Tahun 2026.
Lewat kebijakan ini, kegiatan belajar selama Ramadhan nggak cuma fokus ke akademik, tapi juga diarahkan untuk memperkuat sisi spiritual dan sosial para murid.
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menegaskan bahwa madrasah punya keunggulan dalam memadukan nilai ibadah dengan proses pendidikan.
“Madrasah, memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan nilai ibadah dengan proses pendidikan, sehingga pembelajaran di bulan suci dapat berlangsung lebih bermakna dan kontekstual,” ujar Suyitno di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, penyesuaian jadwal belajar saat Ramadhan bukan sekadar perubahan teknis. Lebih dari itu, momen ini harus dimanfaatkan untuk menumbuhkan keimanan, kedisiplinan, akhlak mulia, dan kepedulian terhadap sesama.
Senada dengan itu, Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khodijah menilai Ramadhan sebagai fase penting dalam pembentukan karakter. Ia menyebut bulan suci ini sebagai ruang pembiasaan sikap, penguatan nilai moral, sekaligus melatih empati sosial murid.
Tahun ini, tema pembelajaran Ramadhan difokuskan pada penguatan iman, akhlak, dan kepedulian sosial. Pelaksanaannya dibagi menjadi tiga tahap.
Tahap pertama adalah Tarhib Ramadhan. Fase ini menekankan penguatan relasi keluarga. Murid diarahkan untuk membangun kebersamaan di rumah sebagai persiapan mental dan spiritual menyambut Ramadhan.
Tahap kedua menjadi inti pembelajaran di madrasah lewat kegiatan tatap muka intensif. Materinya mencakup tahsin Al Quran, pemahaman makna ayat, praktik ibadah dan adab, hingga refleksi diri. Orang tua juga dilibatkan dalam proses evaluasi agar pembentukan karakter berjalan lebih optimal.
Tahap ketiga berlangsung saat libur Idul Fitri. Fokusnya pada penerapan nilai sosial seperti silaturahmi dan kegiatan kemasyarakatan.
Selain itu, madrasah juga didorong untuk menggelar Pesantren Ramadhan minimal tiga hari. Bentuknya bisa disesuaikan dengan kondisi sekolah, mulai dari model mukim, semi full day, hingga pembelajaran terintegrasi.
Kemenag menegaskan, pembelajaran Ramadhan tidak diarahkan pada target kuantitatif seperti kewajiban khatam Al Quran. Yang lebih penting adalah kualitas bacaan, pemahaman, dan bagaimana nilai-nilai keagamaan itu benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sistem evaluasinya pun dibuat lebih menyentuh aspek sikap. Penilaian dilakukan lewat jurnal refleksi, kartu kendali tahsin, hingga lembar observasi perkembangan perilaku, terutama untuk murid RA dan MI kelas awal.
Madrasah juga dianjurkan mengadakan kegiatan sosial seperti edukasi zakat fitrah dan berbagi takjil sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua dinilai jadi kunci agar pembentukan karakter selama Ramadhan bisa berjalan maksimal.
Intinya, keberhasilan program ini nggak diukur dari seberapa lengkap laporan kegiatan, tapi dari perubahan sikap dan perilaku murid setelah menjalani pembelajaran Ramadhan. Jadi, bukan cuma soal nilai, tapi soal tumbuhnya karakter yang lebih baik.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026